Menyediakan Materi, Soal & kunci jawaban Mapel Bahasa Jawa untuk Semua

Contoh Tulisanku Yang Dimuat Ah Tenane Solopos

Sekedar Contoh Tulisanku yang pernah dimuat di Ah Tenane Solopos....

Wayang Snack

Dimana ada pertunjukan wayang disitu ada snack. Begitulah semboyan Koplo dan Gembus, dua sobat karib mahasiswa kampus swasta yang ngekos di Pabelan ini.
Karena seharian dikamplengi oleh berbagai tugas kuliahnya, maka malam hari mereka sering keluar untuk mencari hiburan gratis. Dan wayang selalu menjadi jawabannya. Karena di Solo raya sering sekali menggelar pertunjukan wayang kulit.                                
Seperti beberapa pekan yang lalu, salah satu kantor dinas di Solo merayakan hari ulang tahunnya dengan nanggap wayang semalam suntup. Koplo dan Gembuspun bergegas menuju tempat itu. Seperti biasa, setelah parkir mereka masuk dan menerima snack secara gratis lalu duduk di kursi yang selalu saja ada yang kosong.Sudah menjadi kebiasaan Koplo, kalau menonton wayang pasti ndobel snack. 
“Sek ya, Mbus. Biasa.” Tukas Koplo sambil berdiri.
“Ya...” Celethuk Gembus sambil makan snack-nya. Ia sudah tau apa yang akan dilakukan temannya itu.
Koplo keluar dari tayub dengan mlipir-mlipir lewat pintu samping. Dengan idenya yang dianggap cemerlang itu, Koplo kembali masuk melalui pintu depan. Terang saja, ia dikasih snack lagi oleh petugas tanpa ada kecurigaan sedikitpun.
Setelah jam berlalu, saat seasion limbukan, Koplo pun kaget ketika dalang bilang ”Bocah kos-kosan kae yen nonton wayang mesti ndobel snack.”
“Ha..ha..ha..”  Sontak swara penonton riuh, termasuk Gembus.
Oalah Plo, konangan tenan kowe. Gaweyane ndobel snack .ha..ha..”  Ejek Gembus sambil ngguyu kemekelen.
Asem ik.. dalange ampuh tenan.. ngerti-ngerti men yen aku ndobel.” Koplo sambil menyembunyikan  mukanya yang kisinan.
Padahal dalang itu di setiap pertunjukan selalu mengeluarkan banyolan seperti itu untuk mencairkan keadaan...
Ealah.. ada-ada saja.   



Tragedi Sate Keong      


Jika di Perancis punya kuliner khas, Escargot atau daging siput, maka di Solo juga tidak mau kalah dengan kuliner khas warung hik-nya, yaitu sate keong. Dimana keduanya sama-sama hewan jenis Gastropoda, atau hewan yang berjalan dengan perutnya itu.  

Pasalnya setiap warung hik yang beroperasi di Solo, hampir pasti sate keong menjadi menu wajib yang selalu setia menunggu kehadiran para pelanggan beratnya, tak terkecuali dengan John Koplo salah satu warga Solo Pinggiran ini.   

Sudah menjadi agenda rutin, setiap ba’da magrib Koplo nongkrong di hik lengganannya, Pak Gembus, yang tidak jauh dari rumahnya.

Suatu ketika, saat Koplo baru sampai di depan hik, Gembus langsung menyerobot.

Plo, tulung hik-ku tunggunen sek ya, tak tinggal tuku gula sedilet.”

Wah, dodolan kok ora persiapan. Aja suwe-suwe lho, Mbus.” Jawab Koplo sak-sake .

Gembus pun bergegas melempar tubuhnya ke warung kelontong terdekat.  

Setelah duduk di kursi kayu, tanpa banyak mikir Koplo langsung mencari keberadaan sate keong. Dan akhirnya ditemukannya dua sate keong yang masih terbungkus plastik di pojok angkringan ketindhihan lepek.   

O lha, ora niat dodolan tenan ki, kabeh-kabeh rung disiapke.” Batin Koplo sambil melahap Sate keong yang terasa kenyil-kenyil menggoyang lidahnya.  

Menit berlalu, Gembus pun kembali dan segera meracik wedang jahe gepuk pesanan Koplo.

Tak lama setelah itu, datanglah Cempuk untuk mengantar sate keong.

Ngapunten Pak Gembus, telat”. Kata Cempluk sambil mengasihkan bungkusan sate keong.

Boten napa, Mbak Cempluk. Jawab Koplo dengan tangannya mengobrak-abrik lepek di pojok angkringan mencari sate keongnya untuk ditukar yang baru, tapi tak jua ketemu.

Goleki apa, Mbus? Sate keong  ya? Oo.. sudah masuk dalam perutku.” Jawab Koplo sambil mengelus perutnya. 

”Astaga buah naga!!.. Kuwi sate wis mambu sisa gek wingine, Plo. Kok ya tegelmen mbok pangan.” Dengan terkaget-kaget Gembus menjelaskan.

Koplo pun hanya bisa bengong plonga-plongo kaya sapi ompong, dan terpaksa mendengar ngguyu cekikikan dari Gembus dan Cempluk.   


 
Tragedi Iwak Berkat 
Walaupun terus memudar, tradisi Jawa masih terlihat kental dibanyak pedesaan, termasuk daerah Simo, Boyolali, tempat tinggal Koplo. Salah satu tradisi itu adalah punggahan, wujud syukuran dengan kenduren untuk menyambut datangnya bulan puasa. Kejadian lucu-pun terjadi beberapa pekan yang lalu ketika sore hari Koplo, pemuda desa yang baru pulang dari pabriknya. 
Setelah masuk rumah dan beberapa saat istirahat, ia melihat cething berisi nasi dengan tumpukan sayur serta lawuh diatasnya.
Ia-pun langsung mendekati berkat, dan seperti biasa ia mengambil ayamnya.
Lumayan, oleh pupu. Idep-idep tambah gizi.” Batin Koplo. 
Setelah paha dilumat hampir habis, beberapa saat kemudian ibunya, Lady Cempluk, yang baru saja pulang dari sawah mbengok banter, “Plo, berkat di meja yang ngeker-ngeker sapa?”
“Aku mung njipuk iwake mbok.” Jawab Koplo santai.
Woo..lha. iki dudu berkate dhewe. Nggone Mbak Nikole ngarep omah. Aku mau dititipi saka sedulure Sambi.” Jelas Ibunya dengan nada marah.
Mendengar itu, “Mak Jleb” seakan jantung Koplo tersentak. Ia baru teringat kalau tetangga depan rumahnya itu sering lembur kerja, jadi pulangnya malam. Maka jika ada sesuatu, selalu dititipkan di rumah Koplo. 
“Wis Gerang barang sing dipikir mung panganan wae.” Cempluk masih ngomel saja, sementara Koplo hanya bisa ndomblong melihat paha ayam yang tinggal tulangnya itu.
Namun Koplo terselamatkan oleh datangnya Gembus ke rumahnya, dengan keperluan atur-atur kenduren.
“Wis ndang mangkat kana, iwake engko dinggo ijol.” Lanjut Cempluk.
Koplo hanya bisa tertunduk malu menyesali perbuatanya, dan klunak-klunuk mengambil sarung untuk persiapan kenduren. Ealaahh…



Tragedi Gigi Palsu
Jalan pertobatan itu tidak datang dari satu pintu, buktinya John Koplo, remaja Sukoharjo yang dulunya dikenal sebagai pemabuk, kini mendadak menjadi takmir masjid aktif. Semua berawal dari dua bulan yang lalu ketika ia mengalami kecelakaan dan harus perawatan, termasuk pemakaian gigi palsu bagian samping. 
Beberapa hari yang lalu, seperti biasa bakda dhuhur dibulan puasa ini digunakan beberapa remaja masjid untuk mengaji. Sekitar jam satu, satu-persatu remaja itu bersiap menyelonjorkan kakinya untuk mengambil posisi tidur, termasuk Koplo.
Dua jam berlalu, Koplo terbangun dan segera keluar masjid menuju toilet. Karena keadaan berpuasa, membuat mulutnya kering dan pahit, ditambah lagi dengan bau gigi palsunya. Untuk itu ia segera mencopot dan membersihkannya. Lima menit kemudian, ia keluar.
 “Plo, wis manjing. Gek ndang diadzani.” Ucap Gembus yang ternyata juga sudah terbangun.
Iya.” Jawab Koplo sembari berwudhu.
Setelah selesai ia segera menuju mimbar, dan suara adzan ashar-pun menggema dari toa masjid. Sekian menit berlalu selesailah Koplo mengumandangkan adzan dan dengan langkah yang kesusu  ia kembali ke toilet yang tadi. 
Namun sayang, pintu toilet tertutup pertanda ada orang yang sedang berhajat di dalam. Koplo hanya terpaksa menunggu di luar. Tiba-tiba Koplo dikagetkan ucapan Gembus.
Lho.. ngapa, Plo? Mbaleni sing ketinggalan.” Klakar Gembus sambil ngguyu ngikik.
Mak prepett...” Konsentrasi Koplo langsung buyar.
Untung pintu toilet segera di buka. Setelah orangnya keluar, Koplo langsung masuk kedalam dan menguncinya. 
Teman-teman jamaah yang mengetahui tingkah Koplo langsung tertawa ger-geran. Ternyata ketika Koplo Adzan, Gembus masuk toilet dan mengetahui gigi palsu Koplo ketinggalan. Segera saja ia memberitakan kepada teman-temanya. Ealahh.. ada-ada saja.    


Teh Lupa Puasa
Masa tua memang identik dengan kelalaian. Tidak heran jika banyak orang yang sudah sepuh sering melakukan hal-hal yang keliru karena lupa. Kitapun maklum dengan semua itu. Namun kejadian yang dialami oleh Mbah John Koplo, salah satu Pak Bon di SMK Swasta Sukoharjo ini benar-benar ngguyokke. 
Kejadian ini berawal dari liburan kenaikan kelas selama tiga minggu. Untuk minggu pertama dan kedua, para guru ikut libur. Namun pada minggu ketiga, para guru diwajibkan masuk karena ada rapat persiapan ajaran baru. 
Pada beberapa hari yang lalu, Jam delapan pagi para guru sudah duduk rapi di salah satu ruangan kelas, dan acarapun segera dimulai. Beberapa saat kemudian akhirnya tiba saatnya giliran Pak Gembus, sebutan untuk Kepala sekolah disitu memberikan arahan kepada para guru dan karyawan yang hadir.
“Para Bapak serta Ibu guru sekalian yang saya hormati, seperti yang kita ketahui minggu depan anak-anak sudah mulai masuk sekolah bla..bla.. bla... . ”
Para guru dengan khidmad mendengarkan ceramah yang disampaikan Bapak kepala sekolah. Namun kondisi yang tenang dan damai itu menjadi terkoyak saat Mbah John Koplo dengan PD-nya membawa tepak yang diatasnya berjejer gelas berisi teh anget melaju di depan forum rapat.
Awalnya para guru hanya saling berpandangan dan mlongo saja, namun dengan segera terdengar swara cekikikan. 
Mbah Koplo, nyuwun pangapunten. Menika Bapak Ibu guru sami siyam sedaya.” Celethuk Bu Cempluk yang mengagetkan Mbak Koplo.
Ealahh.. Iya ya, Bu. Iki sasi pasa, nganti lali aku.” Jawab Mbah Koplo.
Para guru yang hadirpun tertawa ger-geran melihat kejadian ini.


Takut Sunat
Dasar Tom Gembus anak yang manja dan penakut. Sudah kelas 8 SMP tapi belum juga sunat. Ini yang membuat Gembus sering diejek oleh teman-temannya. Bapaknya, John Koplo dan ibunya, Lady Cempluk juga tak henti-hentinya membujuk anak semata wayangnya ini untuk segera sunat. Maklum mereka  ingin cepat duwe gawe.
 
Mau tidak mau, liburan semester ini Tom Gembus harus diwanek-wanekke sunat. Karena sudah risi mendengar ejekan teman dan bujukan orangtuanya.    
Akhirnya Gembus diantar ke tukang sunat “Bong”. Setelah celana Gembus dibuka, Pak Bong mengambil smartklamp dan gunting alat untuk sunat.
Melihat benda itu, Tom Gembus sontak langsung mengkurup takut sambil nangis.“Takut, Maa..  tidak.. tidak..“
“Tidak sakit, Tom.  Ayo, kamu sudah besar lho. Lady Cempluk dan John Koplo membujuk.
 “Ora disuntik le.. sekarang jamannya sudah canggih.. Cuma disemprot, thok..” Ujar Pak Bong menerangkan.
Setelah setengah jam dirayu dan diiming-imingi motor keluaran terbaru, akhirnya Gembus mau mlumah.
“Mama.. takut!.. “ Suara Gembus sambil merem dan gujengan baju Cempluk.
“Tidak apa-apa sayang.” Balas Cempluk.
Wis rampung le.. tidak sakit kan?.” Kata Pak Bong.
Mak klakep, Gembus kaget. Tidak mengira secepat itu dan hampir tak terasa sakit sama sekali.
Beberapa saat setelah menyelesaikan administrasi, Gembus langsung dibopong oleh John Koplo ke mobil lalu pulang.
Sampai dirumah, Gembus disambut oleh tangga teparo yang lagi sambatan masang tayub untuk acara resepsi sunatannya.
Gembus hanya bisa cengar-cengir menahan malu sambil memegangi sarungnya.
ngertiya biyen-biyen cah..cah..” Batin Gembus agak kecewa.


Untung ada cctv
“Semakin bertambah umur, berkuranglah daya ingat seseorang”. Teori ini juga terpakai oleh John Koplo, guru honorer berkepala lima yang mengajar di salah satu SMP di Sragen. Kebetulan beberapa minggu yang lalu disekolahnya mengadakan UTS(Ulangan Tengah Semester). 
“Bapak ibu guru yang saya hormati ... bla.. bla..bla..” Breefing Kepsek sebelum UTS dimulai.
Menit berganti dan jam-pun berlalu. Ketika UTS selesai, para guru kembali ke kantor untuk mengembalikan lembar jawab dan persiapan pulang.
 “Tas kula kok boten wonten nggih, Pak.” Ucap Koplo kebingungan.
Lha wau jenengan selehke pundi, Pak?” Tanya Gembus.
Biasane nggih mriki niku.” Jelas Koplo.
Gembuspun membantu Koplo dan tak lupa mencari bantuan guru lain untuk menemukan tas tersebut. Ketika beberapa saat tas tidak ditemukan, guru lainnya yaitu Cempluk memberi solusi, “Pak, kan disekolah kita ada CCTV?”
Mendengar itu beberapa guru langsung menuju ke ruangan tempat komputer CCTV berada. Salah satu guru yang mengoperasikan menunjukan rekaman ruang kantor saat Koplo masuk.
“Lho, niki Pak Koplo masuk kantor boten ngasta tas.” Jelas Nikole penjaga CCTV.
“Coba lihat waktu Pak Koplo masuk  sekolah, Bu.” Ujar Cempluk.
Nikole segera menunjukan rekaman video CCTV saat Koplo masuk ke sekolah. Dan badalaahh... ternyata ia tidak membawa tas.
“Astagfirullah.. Jebul tasku dirumah.”Ucapan Koplo mengagetkan teman-temannya.
Para guru-pun saling pandang dan gedheg-gedheg sendiri, yang akhirnya pecah menjadi tawa. Ternyata Koplo sengaja tidak membawa tas saat UTS karena menurut ia hanya membebani saja. 
Ealahh.. Lalen kok diopeni.” Celethuk Gembus.


Susu Mbak SPG


Walaupun dompet menipis tak membuat John Koplo, salah satu mahasiswa di kampus swasta Solo ini untuk berdiam diri dirumah. Hanya bermodal bensin 1 liter dan uang 30 ribu saja, Koplo berani berkeliling di salah satu swalayan megah kota Solo. Bukan tanpa tujuan, tapi memang sudah menjadi agenda Koplo untuk cuci mata melihat-lihat SPG (Sales Promotion Girl) yang aduhai.

Seperti beberapa pekan yang lalu, bakda ashar Koplo berangkat ke swalayan. Setibanya, seperti biasa Koplo masuk dan langsung melirik kesana kemari tanpa ada satupun pengunjung yang curiga. Lirikan Koplo terhenti pada cewek SPG dengan membawa tepak yang diatasnya ada gelas-gelas kecil berisi susu.

Dengan langkah yang biasa Koplo berjalan melintasi SPG susu tadi. 

Benar saja, setelah Koplo sampai didepan SPG, Koplo langsung disamperinya. “Maaf mas, mengganggu sebentar.” Ucap SPG itu, sebut saja Lady cempluk.

“Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Jawab Koplo.

Dengan cekatan Cempluk menjelaskan produk yang dibawanya. Dan akhirnya menawari Koplo untuk mencicipi susu produknya.

Tanpa berfikir panjang Koplo segera menerima segelas susu dan langsung meminumnya. Tanpa disadari, Nikole salah satu teman kuliahnya menghampiri.

Lho, Plo. Kok tekan kene, arep mipik, ta?” Tanya Nikole.

Ora og, mung pengin mlaku-mlaku wae.” Jawab Koplo.

Tak lama kemudian Cempluk mengambil alih pembicaraan. “Gimana, Mas. Mau yang kecil atau yang besar?”

Mendengar tawaran itu Koplo langsung tratapan. Dengan terpaksa ia harus memilih karena malu ada teman sekampusnya. 

“Yang kecil aja deh, Mbak.” Jawab Koplo sambil merogoh dompetnya.

Dengan terpaksa Koplo membayar susu tersebut sambil misuh-misuh dhewe dalam hati. Uang yang tadinya 30 ribu hanya sisa 10 ribu karena yang 20 ribu untuk membayar susu. Karena uangnya mepet, Koplo langsung alesan ke Nikole bahwa ia harus segera pulang. Ealaaaahhh....
  



Salah Stempel

Dalam paradigma warga desa, predikat mahasiswa masih dianggap sebagai kaum yang terpelajar. Atas dasar itulah, John Koplo yang berdomisili di Boyolali pinggiran ini dipercaya warga desanya untuk menjadi sekretaris. Entah itu sekretaris karang taruna maupun sekretaris takmir masjid.  Beberapa hari yang lalu, sehabis sholat maghrib Koplo di temui Gembus, ketua takmir masjidnya.

“Mas Koplo, nyuwun tulung ndamel undangan nggih. Kangge rapat persiapan bulan Ramadhan.” Ucap Gembus.

Nggih, Pak. dintene menapa?” tanya Koplo.

Malem Senin, Mas. Wektune sami kados biasanipun.” Terang Gembus.

Mengetahui waktu tinggal beberapa hari, Koplopun dengan sigap mengerjakan tugas tersebut. Esuk harinya, setelah diprint ia langsung menuju rumah Pak Gembus untuk meminta tanda tangan.

“Pak, ngapunten. Tapak asma rumiyin.” Pinta Koplo sembari menyerahkan master undangan.

Mas, menawi saged mangke bibar isyak undangan sampun rampug sedaya, nggih.” Tukas Gembus.

Nggih, Pak. Insya Allah saged.” Jawab Koplo.

Sore harinya setelah Koplo pulang dari kampus, tidak lupa ia mampir ke tempat foto copy. Bakda magrib setelah nulis nama dan menyetempel undangan yang berjumlah tiga puluhan itu, ia langsung  bergegas ngedumke. Hanya dengan waktu 45 menit, ia sudah selesai.

Alqamdulilah, sampun rampung, Pak.” Sms Koplo kepada kepada Gembus.

Nggih, Mas. Sampun, ananging stempele kok kliru stempel karang taruna.” Balas gembus.
Koplo memandang hapenya untuk beberapa saat, dan langsung mengambil sisa undangan. Benar, stempel yang seharusnya stempel masjid, kliru stempel karang taruna.
“Wadhuh.” Ucap Koplo sambil menepuk bathuke dhewe.
Besuknya sewaktu rapat, dengan malu-malu Koplo meminta maaf atas kesalahan stempel tersebut. Mendengar itu para takmir tertawa terkekeh-kekeh.
 

Salah Rombongan

Liburan sekolah adalah waktu yang cocok untuk piknik. Untuk itu sekolahan Koplo, salah satu SMA swasta Boyolali ini mengadakan ziarah wisata ke makam Sunan Kalijaga Demak dan Jepara ourland Park.

Kejadian lucupun terjadi saat rombongan sampai di makam Sunan Kalijaga. Ceritanya, Jam enam pagi pekan lalu para guru berkumpul di halaman sekolahan. Jam tujuh berangkatlah rombongan tersebut.

Kurang lebih pukul setengah sebelas, Bus sudah sampai ditempat yang dituju. Rombongan tumpah ke parkiran. Karena perut merasa tidak enak, maka Koplo mencari toilet.

Beberapa menit berlalu, Koplo kembali ke bus.

“Pak, Langsung ke pemakaman”. Terang sopir kepada Koplo. Iapun menurutinya.

Karena kondisi yang sangat ramai, maka Koplo tidak menemukan teman-temannya. Terlihat para pengunjung duduk mengelilingi makam Sunan Kalijaga sembari membaca dzikir dan tahlil. Koplo tidak ambil pusing, ia langsung menuju tempat yang kosong.

“Laailaahailallah…” Koplo langsung mengikuti bacaan disebelahnya yang ternyata rombongan dari Madura.

Tahlil mengalir, Koplopun terhanyut. Setelah selesai, rombongan tersebut berdiri untuk meninggalkan tempat.

Tapi tidak dengan Koplo, ia terlihat plingak-plinguk mencari rombongannya.

“Eh, Pak Koplo kok sendirian”. Ucap Gembus sambil menuding Koplo.

Teman-temannya yang juga baru saja selesai tahlil ikut menengok ke arah Koplo. 

 “Pak rombongan kita disini.” Suara Gembus memanggil Koplo.
Koplopopun langsung menuju ke rombongannya. Sementara itu teman-temannya ngampet ngguyu melihat kesalahan Koplo.
Oalah.. pak guru kok isoh ucul saka rombongan ki piye.” Celethuk Cempluk.
Kurang piknik yak e” Sahut guru yang lain. Senyumpun pecah.
 

Salah Njagong

 Ruwah adalah bulan yang baik untuk hajatan”. Buktinya, saat ini John Koplo, salah satu guru swasta di Sukoharjo sedang keblebekan undangan perkawinan. Saking banyaknya undangan, Koplo hanya sempat membaca sekilas undangan tersebut, termasuk undangan mantu dari teman guru, Genduk Nicole.

Seperti biasa, beberapa pekan yang lalu John Koplo juga berangkat ke sekolahan. Pada jam istirahat Koplo ditanya oleh salah satu rekannya, Tom Gembus.

Pripun, Pak? Ikut njagong sore atau minggunya di gedung.” Tanya Gembus.

“Minggunya aja deh, Pak.” Jawab Koplo.

Waktu berlalu dan hari minggu telah tiba. Jam setengah 10 pagi, Koplo dan istrinya, Lady Cempluk meluncur. Selang 25 menit, mereka sampai di tempat tujuan.

Wah kok wis rame ya, Pak.” Celethuk Cempluk.

“Iya Bu, ayo langsung masuk aja.” Jawab Gembus.

Akhirnya mereka masuk ke gedung dan memasukan amplop ke dalam kotak sumbangan. Ditengah-tengah menikmati hidangan yang mbanyu mili, istrinya bertanya, “Lho, Pak. Lha teman-teman guru jenengan mana?”

Koplo langsung meng-sms temannya, “Pak Gembus, jenengan duduk di mana?”. Tidak lama kemudian Gembus membalas, “Duduk di rumah, Pak guru.”

 Dikira Gembus hanya bercanda, lalu Koplo mengebelnya. Dan benar Koplo sedang dirumah, Ia tidak njagong karena tidak ada yang di jagongi. Sebab hajatan bu Nikole masih minggu depan.

Mak jedheerrr...” Seperti disambar petir di siang bolong, Jebul Koplo salah njagong. Koplo segera mengajak istrinya untuk segera meninggalkan gedung.

Besuknya waktu di sekolah, berita itu telah menyebar.  Oalah Pak-Pak, njagong kok ga ngajak-ngajak.ha..ha..” Celethuk Gembus diikuti tawa teman-teman guru yang lainya. Koplo hanya bisa cengar-cengir sendiri dengan raut wajah yang abang ireng karena kisinan.
 

Salah Masuk Bioskop

Sebagai salah satu santri yang setia kepada guru ngajinya, John Koplo yang tinggal di Karanganyar ini tidak berpikir panjang untuk memutuskan ikut bergabung menonton film di bioskop. Pasalnya, pekan lalu, film yang bertajuk sejarah salah satu Kyai akbar di negeri ini diputar.

Dengan bebarengan teman-teman remaja masjid lainnya, Koplo ngacir menuju salah satu Mall yang megah di Solo. Namanya juga wong ndesa, seumur-umur baru kali ini Koplo mencicipi nikmatnya duduk di depan layar lebar yang full AC. Namun, karena kenikmatan itulah Koplo jadi kebelet pipis.

Mbus, aku pengin pipis. Kolahe ngendi ya?” tanya Koplo kepada salah satu temannya, Tom Gembus.

Kae lho, lawang tulisane “exit” sing murup abang. Jawab Gembus.

Koplopun langsung keluar bioskop dengan memancarkan cahaya HP karena keadaan setengah gelap dan langsung mencari keberadaan toilet. Beberapa menit berlalu, setelah lega mengeluarkan zat cairnya, Koplo kembali ke bioskop melalui pintu exit yang tadi.

Tapi alangkah kagetnya Koplo ketika masuk bioskop. “Horok, penontone kok dadi mbludak, padahal tadi cuma separuhnya saja.” Grememeng Koplo sambil meninggalkan ruang bioskop dan segera sms Gembus. “Mbus, kursine kok kebak. Kowe metua sek wae.”

Tidak lama kemudian keluarlah Gembus, namun lewat pintu yang satunya. Gembus sudah mengira kalau Koplo pasti salah masuk bioskop karena ada 4 pintu keluar yang berarti 4 ruang bioskop.

“Mau pindah bioskop ya, Mas?” Goda Gembus dengan wajah ngampet ngguyu.

Kowe ki, kanca salah malah diguyu.” Jawab Koplo dengan wajah kisinan.

Akhirnya Koplo kembali ke bioskop bersama Gembus. Ternyata, Koplo tadi salah masuk ruang bioskop yang memutar film penyanyi-penyanyi junior yang selalu menyerap banyak penonton.     
 

Salah CPNS

John Koplo, Remaja yang berdomisili di Kartasura ini sudah terdaftar sebagai peserta CPNS. Setelah mendapatkan surat balasan dari Pemkab Kendal, Kabupaten yang ia tuju, ia segera mengabarkan kepada ortunya.

Tanggal 17, Bu. Berarti suk jumat.” Ucap Koplo kepada ibunya, Lady Cempluk.

Lha nggone ngendi, Plo?” Tanya Cempluk.

Jogja, Bu. Jam 7 esuk.” Jawab Koplo.

Hari berganti hari, dan Koplo terhanyut dalam latihan soal tes. Akhirnya tanggal 17 yang dinanti-nantikannyapun datang. Jam setengah lima pagi setelah siap dengan pakaian hitam putih dan sepatu, ia bergegas mancal sepeda motornya.

Dua jam menapaki jalan Solo-Jogja, Koplo sampai tempat tujuan yaitu kantor BKN (Badan Kepegawaian Negara). Koplopun segera bergabung dengan peserta lain. Setengah jam menunggu, petugaspun datang dan segera memberi pengarahan.

“Sebelumnya kami mohon maaf Bapak-Ibu, karena kabupaten Kendal belum memiliki fasilitas CAT atau Computer Assist Test, jadi bla..bla..bla...” Pengarahan Tom gembus panjang lebar.

“Untuk mempersingkat waktu, silahkan Bapak-Ibu menyiapkan kartu peserta dan mengisi daftar hadir urut dari timur.” Sambung Gembus.

Para pesertapun melakukan verifikasi dengan menandatangani daftar hadir dan setelahnya mendapat stempel di tangan. Namun saat giliran Koplo, proses itu berhenti sejenak setelah petugas mengecek kartunya.

“Pak, maaf. Jenengan tesnya bukan hari ini. tapi tanggal 17 November.” Petugas menjelaskan.

“Apa iya, Pak.” Koplo kaget.

Ia segera mengecek, dan Mak prempeenggg.., wajah Koplo langsung abang ireng karena benar apa yang dikatakan petugas itu.
Setelah minta maaf kepada petugas, Koplo langsung nggeblas begitu saja. Langkahnyapun diiringi suara gelak tawa peserta lainnya.
 

Sakitnya tu di sana

Lady Cempluk adalah ibu rumah tangga di kecamatan Colomadu yang harus mengurusi ibunya, Nikole dan maratuwanya, Tom Gembus, yang sama-sama sudah sepuh. Maklum saudara-saudaranya pada merantau ke negeri sebrang.

Beberapa minggu yang lalu, Cempluk merasa kerepotan karena ibunya tidak bisa ditinggal lantaran baru menderita asma. Padahal dari tetangga maratuwanya yang tinggal di Makam Haji Sukoharjo, sudah ngebel Cempluk untuk segera datang memeriksakan Gembus. Untuk itu ia segera menghubungi anak semata wayangnya yang berkuliah di Pabelan.

Plo, wis mulih durung?” Tanya Cempuk.

Wis, Bu. Iki ning parkiran. Enek apa?” Jawab Koplo.

Mampira ning dokter Kartasura kae, kon mriksa mbahmu. migraine kumat”. Jelas Cempluk.

Dengan segera Koplo nggeblas menuju Dokter yang ia tuju. Karena sang dokter sibuk dengan banyak pasien, maka diganti dengan asistennya. Dengan menaiki sepeda motornya, Koplo memboncengkan asisten dokter tadi menuju rumahnya.

Mbok, iki doktere.” Ucap Koplo setelah sampai rumah.

Lho.. Kok digawa rene ta, Le? sing sakit kuwi simbahmu Makam haji.” Jelas Cempluk heran.

Wadhuh.” Suara Koplo sembari ngeplak bathuke dhewe.

Ternyata Koplo lupa, yang sering mengeluh sakit kepala itu Mbah Gembus yang ada di Makam Haji, bukannya Mbah Nikole yang serumah dengannya. Ia hanya bisa kukur-kukur kepala sendiri dan mencoba menjelaskan kepada asisten Dokter tadi.

“Pak, maaf. Ternyata yang sakit itu di sana, simbah yang rumahnya Makam Haji.” Jelas Koplo kisinan.

Asisten dokter hanya bisa tersenyum kecut dan mbatin, ”Owalah, Mas..Mas.. Hawane panas kaya ngene kok ndadak nganggo kliru barang.”
 

Kolam Android  

Selain penuh berkah, Bulan Ramadhan juga menyimpan berbagai rejeki. Itulah sebabnya banyak orang yang jauh-jauh hari mempersiapkan usaha dengan harapan bisa panen dibulan puasa yang tinggal beberapa bulan lagi, Termasuk John Koplo, warga Pengging, Boyolali ini. Beberapa pekan yang lalu, Ia menghubungi temannya Gembus, pengepul bibit lele.

Mbus, pesen bibit telungewu enek?” Tanya Koplo melalui seluler.

“Ada bos, kirim kapan? Wah.. jadi ternak lele? ” Sambut Gembus.

Suk minggu. Arep tak nggo persiapan bakda.” Lanjut Koplo.

Koplopun segera membeli peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kolam, seperti terpal, bambu, pralon dan selang. Lantas iapun segera membuatnya sesuai arahan dari Gembus.

Beberapa hari kemudian kolam sudah jadi, dengan semangat Koplo mengisinya dengan air melalui selang.  Kurang lebih satu jam berlalu, kolam sudah terisi air.

Ia kembali menghubungi Gembus, “Mbus. Banyune wis kebak. Ditutupi ora?” Tanya Koplo.

“Tidak usah.” Jawab Gembus singkat.

Karena kolam terletak di kebun sebelah rumahnya yang banyak pepohonan, maka beberapa daun berjatuhan di kolam. Hape yang baru saja dipegang segera dimasukan ke kantong bajunya, dan segera mengambili daun tersebut. Namun ndilalah saat ndungkruk mengambil dedaunan, hape android yang baru saja dikantonginya jatuh ke kolam.

“Plungg...” begitu suaranya.

Benar saja, Koplo kaget bukan main.
Asem tenan. Durung mulai ternak malah wis korban HP.” Grundelan Koplo sembari mengambil hapenya.
Tiba-tiba ponakannya, Cempluk, yang mengetahui tingkah Koplo ikut nyelethuk, “Oalah Lik...lik... itu kolam lele, bukan kolam android.” Ucap Cempluk bercampur gelak tawanya.
Koplo hanya bisa dongkol sembari mengusap-usap Hape-nya yang masih basah. Ealaaah...
 

Konangan Pramuniaga
Karena banyak pramuniaga yang berparas cantik, maka tidak salah jika swalayan dijadikan tempat cuci mata bagi kebanyakan cowok muda.
Demikian halnya dengan Koplo, remaja  yang berdomisili di kota Bengawan, Solo, ini. Dengan membawa uang tidak lebih dari lima puluh ribu, ia bisa memilih pakaian berbahan jeans, mengajak ngobrol pramuniaga dan meminta strok pembelian.
 “Mbak, yang ukuran tiga satu ada ga, Ya?” Tanya Koplo kepada pramuniaga yang menjadi incarannya.
“Ada, Mas. Sebentar ya, saya carikan dulu.” Jawab pramuniaga, sebut saja Lady Cempluk.
Tidak lama kemudian Cempluk kembali menemui Koplo.
“Ini, Mas”. Ucap Cempluk sembari menyerahkan celana jeans.
“Menurut Sampeyan, bagus boten, Mbak, celanane? Koplo mulai basa-basi.
“Bagus banget, Mas. Cocok buat Sampeyan”. Jawab Cempluk.
Setelah mengobrol kira-kira lima belas menit, akhirnya Koplo mengakhiri dengan meminta strok pembelian kepada Cempluk.
Besuknya, dengan dandanan lebih necis, Koplo kembali ke swalayan dan mengulangi adegan kemarin, yaitu memilih jeans dan mengajak ngobrol Cempuk ngalor ngidul.
Dengan tidak sabar, besuknya lagi-lagi Koplo kembali ke swalayan lagi berharap bertemu Cempluk dan meminta nomer Handphone, karena sudah merasa akrab.
Mengetahui Koplo datang, Cempluk memasang wajah cemberut.
“Selamat malam, Mbak Cempluk.” Senyuman Koplo menyambut.
“Mas Koplo, maaf. Kalau tidak niat beli jangan minta strok pembelian.” Ucap Cempluk sengit.
Koplopun kaget bukan kepalang.
“Maksude apa, Mbak Cempluk?” Koplo pura-pura bingung.
Sampeyan minta strok pembelian, dan barangnya sudah dianter ke kasir tapi tidak diambil.” Cempluk melanjutkan.
Mak glodhakk.. saknalika rupane Koplo abang ireng kisinan, karena konangan tidak mengambil barang yang sudah dipesannya beberapa kali. 

Gara-gara Odong-Odong
Maraknya odong-odong di kawasan Stadion Manahan Solo, membuat sebagian orang meniru odong-odong tersebut untuk usaha tambahan kantong. Dengar-dengar hasilnya juga lumayan. Para peniru ini akhirnya masuk ke desa-desa untuk mencari target penumpang.
Begitu juga dengan Desa John Koplo, salah satu Desa di Colomadu, Karanganyar, yang juga menjadi target masuknya odong-odong.
Beberapa pekan yang lalu, John Koplo yang bekerja di pabrik plastik ini lagi bersantai di depan rumah sehabis isya’ bersama para keponakannya. Belum lama setelah itu terdengarlah suara lagu oplosan yang berjalan. Bersoraklah para keponakan Koplo itu dengan gembira, karena mereka tahu bahwa itu adalah odong-odong yang sedang berjalan.
Ternyata benar. Sepeda genjot dengan empat roda yang dihiasi dengan lampu kelap-kelip itu menuju tempat Koplo.
Lik Oplo, umpak odong-odong.” Permintaan Cempluk, salah satu Keponakan Koplo yang masih duduk di bangku TK.
Kemudian Koplo menggendong keponakannya itu untuk naik ke kursi odong-odong.
Pinten ta, Pak?” Tanya Koplo kepada sopir odong-odong, sebut saja Gembus. 
“Empat ribu, Mas. Putar-putar satu RW ” Jawab Gembus.
Oalah. Ayo, kabeh mlebu.” Koplo menyuruh keponakan dan anak-anak tetangganya untuk naik ke odong-odong.
Setelah 15 menit berlalu, odong-odong akhirnya kembali ke tempat semula.
Niki, Pak.” Ucap Koplo sambil menyerahkan uang empat ribu rupiah.
“Semua jadinya, 32 ribu, Mas. 8 anak yang naik.” Jawab Gembus.
“Lho katane tadi 4 ribu, Pak?.” Tanya Koplo lagi.
Setelah dijelaskan, ternyata empat ribu itu untuk 1 anak, bukan untuk 1 odong-odong sekali putar seperti pengertian Koplo.
Asem..ik. malah tombok akeh, Cah.” Grememeng Koplo dengan wajah cemberut sambil melangkah masuk rumah untuk mengambil uang kekurangannya. Ealah...


SMS Sang Pacar
Hampir setiap masjid, kini selalu ada tulisan “silent” yang dibelakangnya ada gambar Hape. Pastinya semua sudah tahu kalau itu larangan bunyi hape karena bisa mengganggu kekhusukan orang yang sedang beribadah.
Begitupun dengan John Koplo, salah satu remaja masjid Colomadu, karanganyar yang mempunyai HP tunyuk alias layar sentuh ini. Ia segera menyilent dan memasukan HP-nya ke kantongan baju ketika mau menunaikan sholat magrib bersama teman-temannya beberapa pekan yang lalu.
Setelah wudhu dan masuk ke masjid, beberapa menit kemudian terdengar iqomah. Tanpa diperintah jamaah yang berjumlah kurang lebih 1 shoff itu langsung menata diri membentuk barisan rapi.   Sholat magribpun terlihat khusuk. Namun saat gerakan sujud, ternyata hape Koplo jatuh mlumah dari kantong sakunya.
Untuk menjaga kekusyukannya, Koplo tak menghiraukan hal itu. Namun naasnya, saat atakhiyat terakhir, mata Koplo diterbelalakkan oleh HP-nya bergetar. Siapa yang memiskol Hp koplo itu terlihat sekali namanya. Untung tak lama kemudian, sang imam mengucapkan salam. Dan akhirnya sholat magribpun selesai. Dengan cepat koplo mengambil HP tadi dan segera mematikannya.
Setelah selesai, jamaah keluar masjid. Dengan muka berseri-seri Tom Gembus, temannya yang tadi disebelah Koplo nyeletuk, “Alqamdulillah yak,punya kekasih perhatian banget..hehe”
Koplopun merasa kisinan mendengar itu dan sedikit membalas ”Heleh.. apa lho, Mbus.”
“ternyata beritane benar ya. Nunggu apa maneh ta, Plo?” timpal Gembus sambil menepuk-nepukkan tanganya ke lengan Koplo.
Koplopun bergegas meninggalkan masjid dengan perasaan masih malu karena nama pemiscol yang tertera di Hp tadi adalah “Sayangku Cempluk”, yang tidak lain tetangganya sendiri.


Obat Korea
Ini dia, pelajaran bagi orang yang senangane ngenthengke dengan hal-hal yang sepele. Meski  sudah lama dengan batuk-batuk kecilnya karena dulu sering menghisap rokok dan keluar malam, tapi John Koplo yang tinggal di Karanganyar ini tidak juga lekas mau berobat, padahal sudah dioyak-oyak oleh ibunya, Lady Cempluk.
paling mengko ya mari dhewe.” Kata Koplo ketika dikandhani Cempluk.
Akhirya setelah lulus SMK, Koplo terpaksa periksa penyakit batuknya di salah satu rumah sakit paru-paru top markotop di Solo, karena sudah kebelet ingin mendaftar magang ke Korea, Negara yang terkenal dengan kadar dingin dibawah 4 derajat celcius itu.   
Al hasil, setelah dironsen dan dicek dahaknya, Koplo Positif terserang bakteri diplococcus dan harus menjalani obat jalan selama 3 minggu dan wajib kontrol 3 hari sekali.
“Pak Koplo, obat ini harus diminum rutin setiap hari ya, jangan sampai bolong atau telat minumnya.Bu dokter menjelaskan, sebut saja Gendhuk Nicole.
Nggih bu, siap.” Tangan Koplo sambil menghormat.
Satu minggu, dua minggu berlalu, Koplo masih rutin minum obat itu 3x sehari dan aktif kontrol. Tetapi pada akhir minggu ketiga, Koplo malah menyetujui ajakan teman-teman kampungnya untuk gitaran di perempatan jalan sampai larut malam.
“Begadang dulu ah..  minum obatnya entar aja” Gumam Koplo nggampangke.
Paginya, saat mau minum obat. Mak blaiik,obat yang seharusnya sisa 3 itu ternyata masih sisa 4. Teringat kalau tadi malam ia belum meminumnya. 
Wadhuh, modar tenan aku cah...” Bengok Koplo dengan tangan titempelkan di jidatnya.
Akhirnya, ia bergegas ke rumah sakit itu lagi untuk menceritakan kejadian ini. Terang saja, Koplo disuruh  mengulangi minum obat lagi dari awal. Tentunya ya mbayar lagi dong. Dan parahnya lagi, Koplo harus mengundur pendaftaran magang Koreanya.
Ealaahh… Dasar Koplo.       


Oh... Kenanganku
“Mengenang masa lalu bisa membikin hati bergetar.” Begitu kata hati John Koplo, warga Karanganyar yang semasa mudanya merantau sering naik kereta api ini. Setelah tujuh tahun berlalu, kini ia tinggal bersama mertua dan istrinya. Nha, kebetulan mbokdhe istrinya yang tinggal di Jakarta punya hajatan mantu.
“Mas, jangan lupa mampir stasiun beli tiket empat, jurusan Purwosari-Pasar senen.” SMS Cempluk mengingatkan.
Waktu berlalu, dan hari yang dinantikanpun datang. Beberapa pekan yang lalu pasutri Cempluk dan Koplo beserta mertuanya, pukul dua siang sudah bersiap di stasiun Purwosari. Setengah jam menunggu, akhirnya kereta datang. Mereka bergegas masuk gerbong dan mencari tempat duduk.
Wah... Sakniki keretane resik, nggih. Riyin mawon waktu saya bujang naik kereta bla..bla..bla..” Terang Koplo meramaikan suasana.
Pukul setengah enam kereta sampai Gombong. Saat itulah Koplo bersiap membuat mie cup dan menuju ke gordes, pintu perbatasan gerbong. Beberapa saat menikmati mie cup dan pemandangan sore,  tiba-tiba dua orang berseragam menyambanginya.
“Maaf, pak. tolong pintunya ditutup. Dan silahkan kembali ke tempat duduk.” Ucap Polsuska atau Polisi khusus Kereta api, sebut saja Gembus.
“Kenapa tidak boleh, Pak? saya ingin mengenang masa lalu saya.”Koplo ngeyel.
“Sekarang aturannya sudah ditertibkan, Pak. Pintu harus ditutup, berbahaya.” Penjelasan Gembus mengakhiri eyelan Koplo.
Terpaksa Koplo klunak-klunuk kembali ke tempat duduknya. Dan yang pasti tidak bisa mengenang masa mudanya duduk di pintu kereta sembari menikmati pemandangan sore dan mi cup. Kwaciaannn deh...


Tragedi Semut Jepang
Produk bisnis itu harus praktis, bermanfaat dan memberikan solusi.  Teori itulah yang membuat John Koplo, warga Karanganyar ini menjajal ternak Semut jepang, yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Lima toples semut Jepangpun telah berada dirumahnya. Pengalaman yang membuat dirinya kesalpun terjadi beberapa pekan yang lalu, saat makani semutnya di ruang tamu.
Saat itu dari belakang, istrinya, Lady Cempluk mbengok,Mas. Tulung tukokna sabun kumbahan.”
Tidak mau kena marah istinya maka ia segera bergegas ke toko kelontong. Beberapa saat Koplo keluar rumah, seperti biasa mertua Koplo, Nikole yang rumahnya tidak jauh dari situ datang.
Melihat barang-barang yang dirasa tidak enak dipandang, maka dengan Pedenya Nikole mengambil toples tersebut. Saat Koplo sampai rumah dan melihat barangnya sudah tidak ada ia segera tanya ke istrinya.
“Bu, Toples semut mbok kekne ngendi?” Tanya Koplo.
Belum sempat menjawab, mertuanya langsung nyaut,”Wis tak resiki, Plo. Njijik-njijiki, kaya ngono diwenehke ruang tamu.”
Njijiki pripun, Bu?” Tanya Koplo kaget.
Lha rotine wis dirubung semut karo uret. Ya tak buang ke tempat sampah.” Jelas Nikole.
Bagai disambar listrik, Koplo menjelaskan dengan tergopoh-gopoh menuju tempat sampah, “Ya ampun, Bu. Niku sanes roti, tapi ragi tempe pakan semut Jepang. Yang uret itu anaknya.”
Mertuanya yang belum paham penjelasan Koplo hanya bengong saja. Sementara itu istrinya, Cempluk hanya bisa ngakak di belakang rumah mendengar percakapan mereka. Ealahh...


Penguras Jimpitan

Walaupun dikalangan RT-nya terkenal dengan julukan “Galake kaya pitik angrem”, tetapi Lady cempluk yang tinggal disalah satu desa, kecamatan Kartasura, Sukoharjo ini tergolong warga  yang taat aturan.    

Terbukti saat beberapa bulan ini di desanya diadakan kegiatan pasang jimpitan berupa uang seratus rupiah setiap harinya, lady cempluk selalu menyemplungi cepuk kecil yang sengaja dicenthelkan didepan rumahnya. Bahkan beberapa hari ini, Cempluk selalu mengisi lebih dari seratus rupiyah dengan harapan besuknya tidak harus mengisinya lagi.

Namun harapan tinggalah harapan, karena uang jimpitanya selalu bersih tanpa sisa. 

Kecurigaan terjadi saat Gendhuk Nikole mendapat jadwal mengambili jimpitan.

Sesaat Setelah Gendhuk menghampiri rumah Cempluk, bergegaslah Gendhuk nikole menuju rumah sebelahnya. 

Cempluk yang dari tadi sudah tidak sabar lagi ingin tau siapa penguras jimpitannya, kini langsung meninjau cepuknya. Al-hasil uang recehnya habis nggalisit. woo lha.., bocah iki jebule” Cempluk langsung melesat ngoyak Genduk sambil mensinsingkan lengan bajunya.

 “Nduk, kamu itu gimana? jimpitankan Cuma 100 rupiyah, masak receh sak cepuk diambil semua.” Bentak cempluk yang  membuat para tetangga lainnya keluar dari rumah.

“Ma..maaf bu, tadi cupuknya kosong”. Swara  Genduk ndredeg karena takut.

Tiba-tiba suara datang dari John koplo anak kelas 2 SD yang dari tadi juga ikut menyaksikan.

“Mbokdhe Cempluk, Tadi  uange diambil Tom gembus untuk jajan.”

Sontak wajah cempluk berubah menjadi merah karena kaget. Tadinya tidak percaya. Tapi usut punya usut terbukti juga bahwa anaknya sendiri, Tom gembus yang mengambilnya.

Tanpa meminta maaf, Cemplukpun pergi begitu saja meningalkan kerumunan dengan segala kekisinannya. Orang–orang yang menyaksikan kejadian itupun tertawa nyekikik agak diampet, takut kedengaran Cempluk.
 

Kliru  Toko Online 
Selain praktis, Belanja online juga membuat si pembelanja menjadi keren di mata orang-orang dekatnya. Seperti Lady Cempluk, seorang guru berstatus ASN(Aparatur Sipil Negara) yang mengajar disalah satu SMA Solo ini. Seperti biasa, Beberapa pekan yang lalu Cempluk kembali memesan sepatu lewat online.
 “Mau kemana, Bu?” Tanya Nikole salah satu temannya.
“Ke ATM, Bu. Nranfer uang ke toko online Bandung.” Jawab Cempluk kemayu.
Cemplukpun berlalu dari sekolahnya. Setelah menranfer, ia langsung mengirim pesan lewat BBM(Black beri masangger) sembari kembali ke sekolah.
Sampai di sekolah, ia hanya mesam-mesem saja merasa lega karena tinggal menunggu barang pesanannya datang. Tiba-tiba saat ngrumpi di kantor, Cempluk dikagetkan pesan BBM-nya.
“Bu Cempluk, maaf tranferan tidak sesuai dengan harga yang sudah disepakati”. Kata penjual Online sebut saja John Koplo.
“Maksudnya, Mas?” Tanya Cempluk kaget.
“Harga sepatu 250 tetapi uang yang ibu tranfer hanya 75.” Jelas Koplo.
Membaca pesan itu, Cempluk jadi salah tingkah. Ia teringat kalau hari itu membeli dua barang dari toko online yang berbeda, yaitu Sepatu dan toples. Dan ternyata uang yang ditranferkan tertukar, seharusnya uang untuk toples malah terkirim ke toko sepatu, begitu juga sebaliknya.
“Wah Bu, bisa kapusan jenengan.” Nikole meden-medeni.
Teman-teman sekantor yang mengetahui kejadian tersebut tidak bisa menahan tawanya. Disaat teman-temannya heboh menertawakannya,  Cempluk malah sibuk menghubungi pemilik toko online toples. Untung saja pemilik toko online tersebut mau mengembalikan uang sisanya, kalau tidak, mungkin saja Cempluk sudah kapok belanja di toko online. 

Kesruduk Sapi
Idul adha selalu menjadi momen yang sangat dirindukan oleh umat muslim se-dunia. Tak terkecuali dengan John Koplo, salah satu warga Colomadu, Kab. Karanganyar, yang berprofesi sebagai blantik sapi ini. Karena tidak ingin melewatkan kesempatan emas, Koplopun jauh-jauh hari sudah mempersiapkan sejumlah uang untuk modal membeli sapi dagangan.
Pasar sapi Boyolali, yang merupakan  pasar sapi terbesar di Jawa Tengah adalah pilihan Koplo untuk menambah koleksi sapi-sapinya. Kejadian lucu dan nganyelkepun terjadi beberapa pekan yang lalu ketika Koplo berkunjung di pasar ini. Ceritanya begini.
Beberapa saat setelah datang, Koplo langsung memilih sapi dengan seksama. Dan tak lama kemudian ia menemukan sapi pilihannya.
Sing iki pira, lik?.” Tanya Koplo kepada pedagang yang sudah akrab dipanggil Gembus.
 Karo sampeyan 15 ewu wae, Dhe.” Jawab gembus. 15 ewu yang berarti lima belas juta.
Larangmen. Pase wae pira?.” Tanya Koplo lagi.
Merekapun terjadi kegiatan tawar-menawar.
Karena harga tidak cocok, Koplopun langsung mencari sapi yang lainnya.
Yowis, Lik. Tak golek liyane dhisik.” Ucap Koplo sambil meninggalkan Gembus. Dalam meninggalkan sapi yang dicencang disebelah Gembus itu, Koplo dengan sengaja ngeplak kepala sapi tadi sambil nyelethuk “ Sapi kaya ngene kok kon nuku 14 ewu.”
Sontak Sapi milik Gembus njondhil dan langsung menyerudhuk punggung Koplo. sempat orang-orang yang melihatnya langsung berlari untuk menolong Koplo. Untungnya tali sapi cukup kuat untuk menahan kekuatan sapi tadi. Walaupun Koplo hanya sedikit merasa mampeg dan tidak terjadi luka sedikitpun, namun Koplo terlanjur kisinan. Ia bergegas cabut dan memilih menuju pasar sapi yang lainnya.
Setelah Koplo pergi, Gembus menceritakan alur kejadian yang sebenarnya. Orang-orang yang berkumpul di situpun tertawa ger-geran mendengar cerita Gembus.


Kesregepen
Menjadi pengawas UN (Ujian Nasional) memang harus bisa menjaga kedisiplinan. Ini juga yang membuat John Koplo, warga Kartasura dan menjadi guru SMK swasta Boyolali yang ditugaskan untuk menjaga di sekolah Negeri sekitar Boyolali menjadi mendadak sregep.
Sejak dimulainya UN pada hari senin lalu, pukul 06.00 pagi uthuk-uthuk, Koplo sudah siap dengan seragam dan motornya.  Maklum, jam setengah tujuh brifing dari Pak Kepala sekolah sudah di mulai. “Budhal sek, Bu!” Pamit Koplo kepada istrinya, Cempluk.
“Nggih, mas. titiDJ.” Jawab Cempluk yang berarti hati-hati di jalan.
Dua puluh menit berlalu, Koplo sampai di sekolah yang dituju. Untuk beberapa hari berikutnya Koplo juga bisa  mengikuti arahan dari panitia UN dengan disiplin tanpa harus datang terambat.  Hingga pada hari yang ia anggap terakhir, Koplo tetap disiplin berangkat dari rumah jam enam. Disepanjang jalan ia hanya berfokus pada tugasnya untuk ikut andil dalam menyukseskan UN. Setiba di sekolah, seperti kemarin-kemarin Koplo memakirkan sepeda motor di tempat biasa.
“Wah kerisiken tenan iki.” Batin Koplo sembari menuju kantor pengawas.
Setelah masuk di kantor, ia hanya mendapati seorang saja, yaitu Tom Gembus yang sedang menyapu lantai.
Lho, Pak. Tesih sepi, nggih?” Tanya Koplo.
Lha Bapake badhe madosi sinten?” Gembus malah balik bertanya.
Nggih dados pengawas, Pak.” Jawab Koplo tegas.
Gembus mikir sebentar dan akhirnya menuangkan ucapannya, “Lho, Pak. Napa ujiane terakhir boten gek wingi?”
Mendengar itu Koplo kaget. Ia mencoba mengingat-ingat hari. Dan ternyata benar yang dikatakan tukang sapu, UN untuk SMK dilaksanakan sampai hari kamis, padahal saat itu hari jum’at.
Dengan klelat-klelet dan kisinan Koplopun berpamitan kepada Gembus. Sembari meng-iyakan, Gembuspun nyekikik sendiri  merasa mendapat hiburan. Ealaahhh....


Kentekan Bensin
Walaupun sering sliwar-sliwer naik motor idamannya, namun John Koplo, remaja Kec. Colomadu ini belum juga punya SIM(Surat Ijin Mengemudi). Baru setelah tahu bahwa perusahaan yang ingin di lamarnya memakai syarat wajib punya SIM, ia-pun kesusu ingin mencarinya. 
Beberapa minggu yang lalu, jam 7 pagi, bergegaslah Koplo ke Polresta Karanganyar. Sampai di Jaten ternyata jarum bensin mengarah ke huruf E alias entek. Namun Koplo tidak menghiraukannya. “Tukune mengko wae nek wis mulih.” Gumam Koplo.
Limabelas menit kemudian sampailan Koplo ke tempat yang dituju dan segera melengkapi administrasi. Setelah berjam-jam antri, kini giliran Koplo yang dipanggil lewat mikropon. “Saudara John Koplo Colomadu.”
Koplo segera menuju ke lapangan tes dan berbaris mendengarkan petunjuk dari Pak Gembus, sang Polisi.
“Pak, silahkan memakai nomer dada.” Suruh Pak Gembus.
Walaupun Pak Gembus mengijinkan memakai motor polisi, namun Koplo lebih memilih memakai motornya sendiri. Saat tes itulah kejadian ngisin-ngisini menerpa Koplo.
Jreennggg....” Swara motor Koplo saat di starter. Koplopun melaju mengitari garis tes uji yang membentuk angka delapan dengan kayu balok dipinggirnya. Satu putaran ia selesaikan dengan baik dan tidak satupun kayu balok yang ambruk. Namun sayangnya, hanya kurang beberapa meter motor Koplo mendadak berhenti.
Jeet..jet..jet..jet.” Swara motor Koplo. “
Asem ..ik malah mandhek.” Gremeng Koplo.
Mendadak swara clometan datang dari salah satu pengantri yang membuat pengantri lainnya ikut melihat dan segera melepaskan tawanya. “Motor apik-apik og kentekan bensin.”
Koplo hanya bisa cengar-cengir sendiri.  Ia baru teringat kalau bensin motornya tadi sudah mepet. Kuaciaann deh...


KAPUSAN KRAN BIOSKOP
Tidak bisa mengikuti perkembangan jaman kadang kala mengundang tawa tersendiri. Seperti kisah John Koplo yang berdomisili di Boyolali ini. Libur lebaran beberapa pekan yang lalu ia diajak Gembus, teman karibnya yang mudik dari Jakarta.
 “Plo, nanti malam nonton bioskop ya?” Telpon Gembus.
“Oke Bro. Bla..bla..bla...” Jawab Koplo, Seumur-umur baru sekali ini bisa menikmati film bioskop.
Bakda ashar, Gembus meghampiri Koplo. Empat puluh menit perjalanan mereka sampai di salah satu swalayan besar di Solo.
Pilih endi, Plo?” Tanya Gembus setelah masuk ke lantai bioskop.
Iki wae Mbus, mesthi apik.” Tuding Koplo ke poster bergambar superhero semut.
Gembuspun hanya manut saja dan segera menuju ke tempat pembelian tiket. Karena film diputar pada pukul 18.00 maka mereka harus menunggu beberapa saat. Disaat itu Koplo merasa ingin buang air.
Mbus, Toilete ngendi ya?” Tanya Koplo.
Gembus segera menoleh kanan-kiri, dan ditemukanlah panah bertulis toilet.
Oh, Kae, Plo.” Ucap Gembus dan segera mengantarnya.
Koplo masuk dan segera melunasi hajatnya. Setelah itu ia beranjak ke staffol untuk mencuci tangan. Ia menetesi tanganya dengan sabun cair yang sudah disediakan. Saat tangannya sudah munthuk, ia bingung karena tidak mendapati kran pemutar, disitu hanya ada krannya saja tanpa pemutar. Karena tidak berani bertanya kepada orang, Koplo keluar sebentar menemui Gembus. Orang-orang yang melihat tingkah Koplo hanya geli menahan tawa.
 Mbus, kok puteran krane ora ana?” Tanya Koplo.
Gembuspun kaget bukan kepalang.
 “Biasanya kran di bioskop itu otomatis, Plo. Tangan tinggal didekatkan moncong kran, setelah itu keluar airnya.” Bisik Gembus sambil menyeret Koplo kembali ke toilet.
Gembus hanya bisa mbatin, “Masya Allah,  jebul kancaku wis ketinggalan jaman tenan.”


JUJUL BENSIN
Tumane wis kebacut nemplek” itulah kalimat jawa yang pantas di tudingkan kepada Jon Koplo salah satu warga Karanganyar ini. Meski sudah menjadi guru, Koplo tetap saja memegang teguh wataknya yang selalu ngundur-ngundur waktu. Akhirnya ia menerima konsekuensi dari perbuatanya, seperti peristiwa beberapa pekan yang lalu ini.
Walau sudah tahu bahwa hari senin ada upacara, namun Koplo masih enak-enakan tidur padahal jam sudah menunjukan pukul 6 pagi.
Namun setelah 15 menit kemudian, ia gendadapan untuk mandi dan lain-lain. Akhirnya jam 06.40 ia bergegas berangkat dengan langsung pancal gasnya.
Wajarnya, jarak Colomadu-Boyolali tempat Koplo mengajar itu kira-kira memakan waktu setengah jam untuk perjalanan. Namun Koplo hanya butuh waktu 20 menit karena selalu gas poll (gase diuntir ngepol).
Sesaat ditengah perjalanan, Koplo uring-uringan sendiri. “Oalah, bensine kok ya wis entek.” Celethuknya.
Akhirnya ia mampir di pom terdekat dan mengisi bensin 10.000,-. Setelah diisi, Koplo langsung ngacir takut telat.
Jampun berlalu, di istirahatnya Koplo seperti biasa makan siang di kantin bersama teman-teman guru lainnya. Saat mau membayar, ia kaget karena uang 50 ribunya tidak ada. Ia baru teringat bahwa tadi pagi uang itu ia pergunakan untuk membeli bensin, namun ia lupa mengambil jujulnya.
Setelah pulang sekolah, ia langsung mampir ke pom yang tadi. Tanpa banyak basa-basi ia langsung mengutarakan kedatangannya.
ngapunten, Mas. Saya tadi pagi belum dikasih jujul.” Tukas Koplo kepada tugas pom.
Tom Gembus Penjaga pom pun langsung tanggap karena ia masih ingat dengan motor yang dibawanya.
Oalah, sampeyan yang tadi ta, Mas. Apa kelebihan rejeki, kok jujulnya tidak diambil. He..” saut Gembus menggoda.
Akhirnya, jujul Koplopun bisa dikembalikan.
Maturnuwun Gusti, guru honorer kados kula ampun dikelongi rejekine.” Grememeng Koplo dijalan.


Hantu Undak-undakan
Berita tentang kemunculan dedemit perempuan yang menghebohkan akhir-akhir ini, juga terdengar oleh John Koplo salah satu pengajar di SD Karanganyar ini. Pasalnya, John Koplo selalu meng-update beritanya melalui langganan koran tercintanya.
Nha, kejadian yang menggelikan hatinya pun terjadi.
Saat flasdisnya ketinggalan diruang kantor guru, terpaksa John Koplo bakda isya harus kembali ke tempat mengajarnya yang tidak jauh dari rumahnya. Karena data-data perangkat guru yang mau dipake besuk tersimpan disana.
Sesudah sampai di sekolah. Tak ayal keadaanpun remang-remang karena hanya memakai lampu 5 watt. John Koplo harus menaiki tangga atau sering disebut undak-undakan karena kantor guru berada diatas.
Berita Hantupun mangkring dibenaknya, sehingga jantungnya ber-dag dig dug der agak cepat. Untuk  menghilangkan rasa takut itu, John Koplo menghitung tangga yang dilewatinya.
ji, ro, lu, ... patbelas.” Grememeng John Koplo sendiri.
Setelah sampai depan kantornya, segera ia membuka pintu dan mengambil flasdisnya. Dengan gesitnya, ia kembali berada diatas tangga dan turun.
 ji, ro, lu, ... limolas.” Mak sengkring, tubuh  John Koplo sontak gemeteran. Langsung saja John Koplo  jenggirat lari terkencing-kencing.
Esuknya John Koplo berniat cerita kepada teman-temanya. Tapi saat hendak naik tangga, ia ingin menghitungnya lagi.  
ji, ro, lu, ... limolas. Lho kok cacahe limolas” batinya. Ia kembali turun tangga untuk menghitungnya kembali. “wah, limolas meneh.” John Koplo tambah penasaran, segera naik tangga lagi dan menghitungnya kembali. Ternyata jumlahnya tetap 15. Diatas tangga John Koplo tampak kebingungan.
“lho, Pak John. Pagi-pagi kok kados bingung ngoten? Naik turun tangga lagi.” Sapa Lady Cempluk yang tiba-tiba di sebelahnya.
“oalah, Bu. Jebule kulo salah ngitung?”
“ hah, salah ngitung apa pak?”
“hehe... boten nopo-nopo og bu..”
John Koplo hanya bisa kukur-kukur rambut dan pringas-pringis saja. Untuk menghilangkan rasa malu itu, ia lekas menyalami Ladi Cempluk dan berjalan bareng menuju kantor guru sambil mengajak ngobrol tentang perangkat guru.


Guru Permanen
“Grogi” merupakan tindakan lumrah bagi setiap orang yang memulai hal baru. Teori ini juga berlaku pada setiap guru yang baru pertama kali mengajar, termasuk John Koplo, guru baru SMA swasta Karanganyar ini.
Beberapa pekan yang lalu, pada pukul tujuh kurang seperempat, Koplo sudah sampai di sekolahnya dan terlihat sedang menyiapkan perlengkapan mengajar seperti laktop, stop kontak, bolpen dan spidol. Setelah bel masuk, ia segera menuju kelas.
“Selamat pagi anak-anak.” Salam Koplo di depan siswa kelas XI.
“Pagi Pak Guru.” Jawab siswa serempak.
“Perkenalan-perkenalan dulu, Pak.” Saut Cempluk, salah satu siswa.
Untuk menjaga agar tidak terlihat grogi saat berbicara, maka ia mengambil spidol di tasnya.
 “Oke anak-anak, karena saya guru baru maka akan memperkenalkan diri terlebih dahulu.” Ucap Koplo kemudian.
Ia menuliskan nama, alamat rumah, asal kampus dan status di papan tulis. Sesekali terdengar pertanyaan dari siswa.
“Oke anak-anak, sudah cukup perkenalannya. Untuk itu kita mulai pelajarannya.” Lanjut Koplo.
Karena papan tulis akan digunakan, maka Koplo menyuruh Gembus untuk menghapusnya.
Tetapi betapa kagetnya Gembus, ternyata tulisan Pak Koplo tidak dapat dihapus.
“Lho, Pak. Ini spidolnya permanen.” Kata Gembus.
Melihat kejadian itu, serentak siswa langsung tertawa sepuasnya dan menyuraki Pak Koplo.
Koplo bingung bukan kepalang, dan segera memeriksa spidol dalam tasnya. Ternyata ia salah ambil. Di tasnya ada 2 spidol, permanen dan tidak. Yang permanen kemarin ia pinjam dari Tata Usaha(TU) untuk menulisi namanya pada stop kontak yang sudah diserahkan untuk alat pembelajaran.
Disela-sela kebingungan Koplo, salah satu siswa nyelethuk, “Wadhuh.. kelihatan groginya. Santai mawon, Pak.”



Gawan Tempe

Terkadang kekeliruan itu menjadi hal yang wajar bagi setiap diri orang. Tetapi, dengan kekeliruan itu banyak juga yang merasa terhibur karena mengundang tawaan tersendiri. Seperti kasus Lady Cempluk saat menjenguk temannya yang sakit beberapa minggu yang lalu ini.

Sehabis magrib, Cempluk, salah satu warga Colomadu ini sudah menyiapkan gawan sak kresek untuk temannya Nikole yang sedang sakit dan menjalani pengobatan jalan dirumahnya.

Disaat mau mengelurakan kendaraan, ibunya memanggilnya.
Pluk, tulung mengko mampir ke rumah pak Koplo sisan ya, tuku tempe pitung ewu.” Seru ibunya yang setiap pagi dodolan sega jenang itu.
Nggih, Bu.”Jawab Cempluk dengan membawa krsek gawan untuk Nicole.
Takut kelupaan, Cempluk terlebih dahulu mampir ke rumah Pak Koplo juragan tempe dan bergegas ke rumah Cempluk.

Kula nuwun.”. Tangan Cempluk sambil mengetuk pintu.
Nggih mangga” suara ibu Nicole membukakan pintu.
Eehh,, dhek Cempluk, mangga pinarak mlebet.” Ibu Nicole mempersilakan masuk.
Merekapun asyik berbincang layaknya teman yang lama tidak bertemu. Setelah setengah jam berlalu, Gendhuk pamitan.
Sek ya Ndhuk, tak bali sek. Cepet sembuh ya.” Pamit Cempluk.
Matur nuwun lho, Pluk.” Jawab Nicole.

Cempluk lalu mengambil gawan kreseknya untuk diserahkan ke Nicole.
Setelah serah terima gawan lalu cempluk pulang.
Tetapi alangkah kagetnya ketika sampai di rumah.
Saat bungkusan kresek dibuka dan mau dikasihkan ibunya, ia jenggirat saknalika karena bungkusan kresek itu bukan tempe, tetapi gawan yang disediakan untuk Gendhuk.
Oalah Pluk Pluk, mulane sesuk maneh dideleng disik.” Saut ibunya dengan wajah yang ngampet ngguyu.
Cempluk pun hanya maju mundur antara kembali atau tidak.   


 

Gara-gara Henna
Bisa tampil modis dengan tren baru menjadi kebanggaan tersendiri bagi banyak kaum hawa. Termasuk Lady Cempluk, warga Solo yang beberapa waktu lalu melangsungkan ijab qobul dengan tambatan hatinya, John Koplo.
 Satu hari sebelum ijab, Cempluk mengajak Koplo untuk pergi ke salah satu mall di Solo.
“Mas, nanti siang tanganku mau tak henna-kan, Antar aku ya.” Sms Cempluk.
Koplopun hanya sendika dhawuh menuruti kemauan kekasihnya. Sepulang dari mall, tangan Cempluk menjadi perhatian banyak tetangga yang rewang dirumahnya. Termasuk neneknya sendiri yang kaget melihat gambar dengan tinta coklat di tangan cucunya tersebut.
“Ya ampun, cah ayu. Sesuk arep ijab malah tanganmu mbok orek-orek.” Ucap Nikole seketika sembari ke belakang.
Mendengar itu Cempluk hanya bisa tersenyum, dan memaklumi  ucapan sang nenek karena mungkin belum tahu maksudnya.
Suara tawa menjadi pecah ketika Mbah Nikole kembali dari belakang dengan membawa kain lap serta cidhuk berisi air sabun.
“Rene sek, Nduk. Tak resikki tanganmu.” Ucap Nikole mengagetkan Cempluk.
 Mbah, niki namanya henna, buat besuk ijab. Mbayare larang-larang masak mau dihapus.” Jelas Cempluk.
Apa patut ta Nduk, nganggo kebaya kok tangane ndadak digambari barang”. Mbah Nikole masih ngeyel.
“Ini model anak muda sekarang, Mbah.” Jelas Nikole yang semakin membuat Mbah Nikole semakin bingung. Ealahh... Beda generasi niee... 

Gara-Gara Di Sadap
“Tidak boleh membawa HP”, itulah salah satu peraturan di SMA swasta Boyolali ini. Walaupun sudah menjadi peraturan, masih saja banyak siswa yang membawa HP dengan sembunyi-sembunyi. Kejadian yang nganyelkepun dialami oleh Lady Cempluk, salah satu siswa kelas XI.
Beberapa hari yang lalu, John Koplo, guru Bahasa Indonesia yang terkenal disiplin mengajar di kelas Cempluk. Saat pelajaran berlangsung, kondisi kelas sangat kondusif. Tetapi ada siswa yang  menampilkan raut wajah tidak tenang karena HP nya bergetar, yaitu Lady Cempluk.
Ketika itu juga Cempluk maju kedepan dan menghampiri Koplo. “Pak, Saya mau ijin ke belakang.” Ijin Cempluk.
“Oya, Silahkan.” Jawab Koplo.
Cemplukpun langsung bergegas menuju toilet. Setelah masuk ke toilet, ia merasa lega karena bisa mengangkat HP yang tidak lain panggilan dari sang pacar.
“Da pa ta, Cay? Kok jam segini ngebel sih. Kan masih skul.” Tanya Cempluk kemayu.
“Ga papa og, Cin. Cuma ingin dengar suaramu ajah. Oya sekarang lagi pelajaran apa?”. Jawab pacarnya.
Cemplukpun asyik mengobrol dengan pacarnya. Ketika sudah selesai, iapun menutup HP dan memasukkannya lagi ke kantong celana pendek di dalam roknya.
Namun betapa kagetnya Cempluk saat membuka pintu toilet. Didepannya sudah berdiri seorang guru yang super disiplin, tak lain adalah Pak Koplo.
“Eh, Pak guru.” Ucap Cempluk kaget.
“Dhik Cempluk sekarang ikut saya ke BP.” Kata Koplo sembari menggiring Cempluk.
“Pak ada apa ini. Maaf, Pak jika saya ada salah.” Cempluk mulai menyadari kesalahannya.
Walaupun Cempluk meminta seribu maaf kepada Koplo, namun Koplo membiarkannya saja. Karena baginya peraturan harus tetap dijalankan walau pahit sekalipun.
Ternyata sejak jam pelajaran, Koplo sudah memperhatikan gerak-gerik Cempluk. Karena itu ia menyusul ke toilet dan menyadap pembicaraan Cempluk. Di BP, Cemplukpun harus rela HP-nya di sita. Ealaahh..


Burunge Kok Kecil
Era internet seperti sekarang ini banyak dimanfaatkan orang mencari rejeki. Seperti John Koplo, peternak burung kenari asal kartasura ini. Setelah beberapa kali mencoba menjual burungnya melalui online dengan cara memasukan email, nomer HP dan foto burungnya, tanpa ia duga burungnya cepat laku, kini ia ketagihan. Setiap haripun beberapa sms masuk untuk menanyakan atau menawar burung yang dipostingnya di situs jual-beli online. Nah, kejadian ngguyokke pun terjadi.
beberapa hari yang lalu, seperti biasa Koplo memasukan iklan burung kenarinya. Sehari kemudian  banyak sms yang diterima Koplo, tawar menawarpun terjadi.
“Yang indukan di nettkan 270 aja ya, Gan?” Tawar seseorang yang beralamat di Banjarsari, sebut saja Gembus.
“Wah, belum boleh Gan. 290.” Jawab Koplo kemudian.
Setelah beberapa saat proses tawar-menawar terjadi, akhirnya mereka menyepakati harga dan tempat cod( ).
Besuknya, disore hari yang cerah Koplo bergegas menuju tempat yang telah disepakati, yaitu di selatan Manahan.
“mas, ini  saya berangkat ke manahan.” Sms Koplo kepada Gembus.
“Ok mas, bentar lagi saya juga berangkat, nanti tolong tunggu sebentar.” Jawab Gembus.
Dua puluh menit menit kemudian sampailah Koplo di selatan Manahan dan menunggu Gembus. Beberapa saat kemudian, Gembus datang menemuinya setelah beberapa kali sms menanyakan pakaian maupun motor yang dibawanya. Karena memang sebelumnya mereka tidak pernah bertemu.
“Sampeyan Mas Gembus yang mau beli kenari itu, nggih?” Tanya Koplo.
“Nggih, Mas.” Jawab Gembus sembari bersalaman.
“Nggo, mas. Dicek riyin mawon barange.” Ucap Koplo kemudian.
Gembuspun akhirnya melihat burung yang sebelumnya ditutupi dengan krodong.
“Lho, Mas. Burung indukan Kok cilikmen?” Tanya Gembus heran.
“Ini anakan og, Mas.” Jawab Koplo tegas.
“Wah kemarinkan pesan yang indukan, Mas.” Gembus menimpali.
Sesaat Koplo diam sebentar. Dan akhirnya ia kaget bukan main setelah ingat bahwa yang pesan anakan itu seseorang yang rumahnya di Pengging. Maklum, hari itu ia mendapat pesanan 2 ekor burung.
“Oalah ngapunten, Mas. Niki yang pesan orang Pengging. Kliru, Mas.” Jawab Koplo sambil kukur-kukur rambute.
Gembus pun hanya bisa bengong dan tertawa sendiri. Mau tidak mau Koplo harus kembali ke rumah untuk menukar burungnya yang kliru. Ealahhh...


Bangjone ngapusi
Hampir setiap satu bulan sekali, dua ABG dari Boyolali, Koplo dan Gembus ini selalu menyempatkan diri untuk njoged di Manahan. Karena hampir setiap minggu di sana digelar dangdut gratis untuk promosi motor maupun barang-barang elektronik.  
Untuk sampai di Manahan, Koplo dan Gembus biasanya lewat perempatan Jajar. Nah, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi. Dua bulan yang lalu, dihari minggu sekitar jam 7 pagi, Koplo dan Gembus dengan semangatnya menuju Manahan.
Pokokke woyo-woyo, Mbus.ha ha..” Celethuk Koplo sambil menunggangi motor jagonya.
Wah, Plo. Aku selak kemecer njoged. Mesti penyanyine jos gandos, Plo.ha ha.” Jawab Koplo bahagia.
Saat sampai di perempatan Jajar, lampu bangjo(abang-ijo) menunjukkan lampu merah. Merekapun berhenti dan kebetulan dibarisan depan. Saat lampu hijau, beberapa kendaraanpun melaju begitu juga dengan dua sahabat itu. Namun anehnya kendaraan yang jalan itu semua belok ke arah kanan. Karena merasa heran tidak ada yang mengikuti, Gembus melihat ke belakang. Dan badalah, ternyata masih banyak pengendara yang berhenti. Beberapa orang terlihat tertawa kecil melihat motor Koplo yang melaju.
“Plo, lampune isih abang.” Teriak gembus dengan menepuk punggung Koplo.
Dengan mendadak, akhirnya Koplo membanting stirnya ke sebelah kiri dan ngebut ke jalan perumahan Fajar indah.
Plo, awasana polisine, ngoyak ora?” Tanya koplo.
Durung enek, Plo. Ayo cepet ditilapke.” Bujuk gembus.
Karena tidak ada polisi yang mengikutinya, merekapun merasa aman.  Ternyata, setelah pulang dari Manahan mereka baru tahu bahwa belum lama ini, bangjo perempatan jajar diganti dengan bangjo dobel. Belok ke kanan dan lurus, nyala lampu bangjonya berbeda. Mungkin untuk mengurangi kemacetan kaliii...




BANDARA LOVEBIRD
Demam terhadap barang yang lagi naik daun adalah keniscahyaan. Begitu yang dialami John Koplo, pemuda Colomadu, Karanganyar yang beberapa minggu terakhir ikut terjangkit demam lovebird, burung ngekek dengan bulu warna-warninya ini. Tidak ketinggalan, ia selalu membuka facebook dan meng “add” banyak komunitas jual-beli lovebird. Setelah melihat banyak postingan, akhirnya ia menemukan burung yang dirasa cocok untuk diternak.
Palamas pase pinten, Mas?” SMS Koplo kepada Gembus yang memposting lovebird.
“600 mas, induk resmi itu.” Jawab Gembus.
Akhirnya mereka terlibat nyang-nyangan melalui sms. Beberapa saat kemudian disepakatilah harga dan merekapun mengadakan COD(Cas Order Delivery).
 “Ok. Besuk sore di barat Bandara aku bisa, Mas.” Koplo mengakhiri smsnya.
Besuknya, waktu yang di tunggu-tunggupun datang, Koplo bergegas menuju Bandara.
“Mas aku dah sampe di barat bandara.” Sms Koplo.
“Aku juga sudah dari tadi, Mas. Sampeyan di mana?” Jawab Gembus.
Koplopun clingukan kesana-kemari. Karena tidak ditemukan orang yang membawa burung, Iapun mangkir disalah satu penjual bakso bakar.
“Aku di samping penjual bakso bakar dengan motor merah, Mas.” Lanjut Koplo.
“Kok ga ada penjual bakso bakarnya ya, Mas? Sampeyan di selatan atau barat?” Balas Gembus.
Karena tidak ada titik temu maka merekapun mengobrol diHape. Dan usut punya usut, merekapun hanya bisa gedhek-gedhek sendiri. Bagaimana tidak? lha wong Koplo di bandara Adi Sumarmo dan Gembus di bandara Adi Sucipto.
“Oalah Mas-mas, tak tunggu tekan subuh ora bakal ketemu.” Jawab koplo.
“Lha sampeyan itu pripun? group fb-ku kan jual-beli love bird jogja. Jadi aku tulis COD di bandara saja cukup.” Penjelasan Gembus.

Balada Naik Lift
Berpendidikan tinggi ternyata tidak selalu paham akan kesadaran berteknologi. Buktinya, John Koplo, guru swasta di SMA Boyolali yang menyandang gelar Sarjana inipun masih kikuk menggunakannya. Seperti kejadian beberapa pekan yang lalu saat ia bertandang ke kampus ngetop di Solo, terkait informasi beasiswa S2. Untuk itu, jam delapan pagi ia sudah siap dengan semuanya dan langsung berangkat.
Setelah satu jam-an perjalanan, Koplo sampai kampus dan segera menuju ke fakultas pendidikan.
“Pak, kantor Pascasarjana di mana ya?” Tanya Koplo kepada satpam Gembus.
“O.. Silahkan naik, Pak. Lantai lima.” Jawab Gembus.
Koplo segera naik ke atas dengan menaiki Lift, dan dengan cepat sampai di gedung lima. Beberapa saat menanyakan informasi kepada penjaga kantor, akhirnya selesailah agenda Koplo dan bisa pulang.
Ia kembali ke depan Lift, setelah pintu terbuka ia masuk dan memencet tombol satu. Kebetulan waktu itu ada Cempluk, salah satu mahasiswi yang juga masuk ke dalam lift bersama Koplo. Setelah pintu menutup, keduanya bergerak turun. Dengan cepat lift berhenti dan pintu membuka. Cempluk keluar, begitu juga dengan Koplo.
Namun alangkah kagetnya Koplo setelah melihat suasananya bukan lantai dasar.
Badalah, kok rung tekan ngisor.” Grundelan Koplo.
Ia sempat bingung. Di depannya ada tangga turun, ia lalu berjalan menuruni tangga tersebut. Sayangnya ada tiga tangga yang harus ia lalui untuk sampai lantai dasar. Ia baru sadar bahwa sewaktu turun dengan lift bersama Cempluk hanya turun satu tingkat yaitu lantai empat, karena memang Cempluk memencet tombol empat.
 Asemik. Naik lift aja masih gagap, kok mau cari beasiswa S2?” Batin Koplo sembari geleng-geleng kepala sendiri.

Dhuwit Es Puter
John Koplo adalah salah satu santri di daerah Ngarsopura yang berasal dari Sragen. Setiap hari minggu ia pasti mengikuti pengajian di sana. Begitupun dengan beberapa pekan yang lalu. Jam tujuh, pemuda ini sudah necis dengan baju koko lengkap dengan pecisnya. Tak lupa ia membawa tas untuk menaruh buku, bolpen dan kitab suci. 
Karena sudah siap, ia langsung melaju ke arah selatan. 45 menit berlalu, Koplo sudah sampai ke tempat yang ia tuju. Beberapa menit kemudian pengajianpun di mulai. Ditengah-tengah pengajian, Koplo merasa gerah dan sumuk karena kondisinya yang uyuk-uyukan. Untuk itu ia memutuskan untuk keluar sebentar sekedar mencari angin segar.
Setelah sampai di luar, pandangan Koplo tertuju kepada sebuah gerobak kaki lima.
Wah, mimik es dhisik, genah sueger tenan iki.” Batin Koplo sambil mendekati gerobak yang ternyata menjajakan es puter, es yang konon berasal dari negeri kincir angin, Belanda itu.
“Es nya satu, Mas.” Pinta Koplo kepada penjual es puter, sebut saja Tom Gembus.
Dengan cekatan, Gembus segera meracik es puter.  Dan siaplah 1 porsi es puter yang diatasnya ditumpahkan 1 bungkus kecil ketan ijo.
Niki, Mas.” Ucap Gembus kepada Koplo.
Koplopun dengan sigap melahap 1 gelas es puter yang rasanya bikin ngiler itu.
Pinten, Mas?” Tanya Koplo.
“Empat ribu, Mas.” Jawab Gembus.
 Koplo dengan segera merogoh kantongannya, dan badalahh... ternyata ia tidak menemukan dompetnya dalam celana panjangnya. Ia baru teringat kalau dompetnya tertinggal di dalam tas tempat kitab suci berada.
“Wah, ngapunten, Mas. Dompet saya ketinggalan di tas. Saya ambil sebentar ya, Mas.” Ucap Koplo dengan wajah kisinan.
“Iya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab Gembus sambil tersenyum.
Koplopun langsung ngacir mengambil dompetnya. Sementara itu, 2 cewek yang juga sedang menikmati es puter, Cempluk dan Nikole ngampet ngguyu melihat tingkah Koplo.





Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Contoh Tulisanku Yang Dimuat Ah Tenane Solopos"

Back To Top