Menyediakan Materi, Soal & kunci jawaban Mapel Bahasa Jawa untuk Semua

Kuasai Ini Agar Dimuat Ah Tenane Solopos


Penguasaan Bahasa Dan Kata Yang Tepat
Jika posisi kita sekarang menginjak SMA/sederajat berarti paling tidak sudah menguasai penulisan bahasa Indonesia walau sederhana. Karena sejak TK kita sudah diajari berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi jika kita sudah menjadi mahasiswa maupun sudah lulus. Apapun jurusannya pasti sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dalam bentuk tulisan. Hanya saja belajar & berproses dengan banyak menulis menjadikan cerita kita akan dimengerti dan baik dalam pandangan orang lain maupun redaktur. Menulis pengalaman lucu yang akan dikirimkan ke rubrik Ah Tenane akan menjadi mudah jika kita berani untuk berproses. Apapun ide dibenak yang dianggap cukup, kita harus berani menuliskan hingga selesai dan mengirimkannya. Memang untuk awal seperti itu. Nanti jika kita sudah menyelesaikan banyak tulisan serta membaca banyak maka dengan sendirinya ide, bahasa dan kata kita akan mengalir dengan mudah. Klik di sini untuk bacaan banyak cerita AhTenane.

Mengirimlah Dengan Ajeg
Jangan sampai sebelum tulisan kita dimuat oleh redaktur, kita berhenti menulis. Bukan berarti tulisan kita tidak layak untuk dimuat, namun kemungkinan redaktur sudah mengantongi banyak tulisan. Kita harus paham jika yang mengirim cerita Ah Tenane ini bukan kita sendiri.  Dan kita juga harus berlapang dada, jika tulisan yang masuk ke redaksi tidak menjamin untuk dimuat. Bagiku untuk dimuat di rubrik ini membutuhkan perjuangan dan ujian mental tersendiri. Walau yang dikirimkan cerita sederhana, namun untuk dimuat pertama kali, dulu aku harus melewati penolakan sebanyak 11 kali. Dan waktunya pun lebih dari dua bulan sejak pengiriman tulisan pertama. Rasa kecewa memang ada, namun harus diyakinkan tidak untuk berputus asa. Hingga tulisanku yang ke 12 akhirnya dimuat. Tulisan yang aku kirimkan mengalami perubahan yang banyak oleh redaktur. Waktu itu judul aslinya, "Hantu Undak-undakan", lalu diganti "Hantu Tangga".

Fokus Pada Satu Kisah Yang Lucu
Panjang tulisan Ah Tenane hanya 250-an kata. Jadi hampir semua cerita yang dimuat akan membahas mengenai satu tingkah lucu atau kesalahan yang dibuat oleh John Koplo maupun Lady Cempluk. Jika kejadian lucu terlalu banyak dalam tubuh cerita maka akan dikhawatirkan tulisan akan memanjang. Carilah kesalahan-kesalahan berdasarkan pengalaman  pribadi atau orang lain yang mengundang gelak tawa, kegelian atau yang ngisin-ngisini. Misalnya saja ; Salah, keliru, kebalik, tertangkap basah, kelupaan, ketinggalan, ketiduran, kesiangan, terlambat, tertukar, ketakutan, ketidaktahuan, tertipu/kapusan, grogi, gara-gara, dan masih banyak lagi. Hal ini lebih lanjut akan kita bahasa dalam artikel lain. Klik disini untuk membacanya.

Peka Terhadap Fenomena Yang Baru Gempar
Ide datang bukan dari diri sendiri saja, namun juga bisa datang melalui teman, tetangga, pacar, mantan, kerabat, teman FB, murid, guru, orang tua, istri, suami, anak, adik, kakak, kakek, nenek, maratuwa dll.
hFenomena yang terjadi layak dijadikan tulisan. Banyak cerita Ah Tenane yang dimuat karena mengangkat peristiwa yang lagi naik daun. Seperti Om telolet, pokemon go, selfie, akik, online, gojek, sakitnya tuh di sini, disadap, liburan sekolah, gerhana, musim sunat dan masih banyak lagi. Peristiwa seperti itu patut diangkat semasa lagi meraih popuritasnya. Jika peristiwa itu sudah berlalu, biasanya mungkin akan dianggap cerita yang biasa-biasa saja.
Menonjolkan Citra lokal dan Tradisional
Sifat Lokal atau tradisional disini bukanlah hal yang mutlak dalam cerita Ah Tenane. Namun ide ini dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat dituangkan ke dalam cerita. Setauku Koran Solopos selalu mengangkat hal-hal yang bersifat lokal dan ketradisionalan. Mengingat Solopos merupakan Koran lokal yang hadir di tengah-tengah pusat budaya bagi orang Jawa. Kita bisa mengangkat kisah lucu dalam acara adat maupun budaya Jawa yang sedang kita lakoni. Seperti  wayang kulit, ketoprak, kenduren, kumbokarnan, sekaten, temanten, pambagyaharja, nyadran, nyatus, nyewu, mitoni, sepasaran bayi, dan masih banyak lagi. Selain citra lokal dan tradisional, masih banyak tema lain yang bisa dijadikan ide. Silahkan membacanya

Kata Langsung Wajib Digunakan
Jika kita sudah banyak membaca Ah Tenane, maka kita akan mengetahui bahwa terdapat kalimat langsung, kalimat yang diucapkan oleh si tokoh. Wajib diberi keterangan, bisa di depan atau dibelakang kalimat langsung. Dalam artian ucapan tersebut harus jelas nama tokoh yang disampaikan.
Petikan di bawah sekedar contoh saja,
  1. Keterangan terletak di belakang kalimat langsung. Diambil dari judul “Salah CPNS”.
“Pak, maaf. Jenengan tesnya bukan hari ini, Tapi tanggal 17 November.” Gembus menjelaskan.
“Apa iya, Pak.” Koplo kaget.
  1. Keterangan terletak di depan kalimat langsung. Diambil dari judul “Salah Masuk Bioskop”.
Koplo meninggalkan ruang bioskop dan segera sms Gembus. “Mbus, kursine kok kebak. Kowe metua sek wae.”

Batasi Kalimat Langsung
Yang sering ditemukan, bahwa untuk kalimat langsung tidak butuh banyak. Biasanya yang ditampilkan hanya dua atau tiga kalimat langsung dalam setiap percakapan. Setelah itu dilanjutkan kembali dengan narasi cerita selanjutnya. Dan kita bisa menambahkan lagi kalimat langsung di bawah narasi tersebut. 
Sekedar contoh, petikan diambil dari judul,”Salah Njagong”

Seperti biasa, beberapa pekan yang lalu John Koplo juga berangkat ke sekolahan. Pada jam istirahat Koplo ditanya oleh salah satu rekannya, Tom Gembus.
Pripun, Pak? Ikut njagong sore atau minggunya di gedung.” Tanya Gembus.
“Minggunya aja deh, Pak.” Jawab Koplo.
Waktu berlalu dan hari minggu telah tiba. Jam setengah 10 pagi, Koplo dan istrinya, Lady Cempluk meluncur. Selang 25 menit, mereka sampai di tempat tujuan.
Wah kok wis rame ya, Pak.” Celethuk Cempluk.
“Iya Bu, ayo langsung masuk aja.” Jawab Gembus.
Akhirnya mereka masuk ke gedung dan memasukan amplop ke dalam kotak sumbangan. Ditengah-tengah menikmati hidangan yang mbanyu mili, istrinya bertanya, “Lho, Pak. Lha teman-teman guru jenengan mana?”

Petikan diatas hanya dijadikan contoh saja. Intinya untuk kalimat langsung tidak harus sama persis seperti diatas. Kita bisa bebas menulisnya sendiri sesuai dengan kreativitas masing-masing.

Percakapan Dengan Bahasa Jawa
Jangan menganggap bahwa percakapan bahasa Jawa ini wajib. Ini hanya langkah lain saja yang digunakan agar tokoh cerita terkesan berasal dari pedesaan. Jika kita memang enggan menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan juga tidak menjadi masalah. Karena untuk AH Tenane sendiri membebaskan kita untuk memilih bahasa dalam percakapan, entah itu bahasa Jawa maupun bahasa Jawa. Jika menggunakan bahasa Jawa pastikan percakapan itu dimengerti pembaca. Karena banyak ejaan dan ragam bahasa Jawa yang memang sulit dipahami oleh generasi sekarang. Biasanya penggunaan bahasa yang kurang efektif akan diganti atau dihapus oleh redaktur.  
Sekedar contoh, diambil dari judul “Salah Masuk Bioskop”.
Mbus, aku pengin pipis. Kolahe ngendi ya?” Tanya Koplo kepada salah satu temannya, Tom Gembus.
Kae lho, lawang tulisane “exit” sing murup abang. Jawab Gembus.

Untuk tulisan berbahasa Jawa harus menggunakan ejaan bahasa Jawa. “iya” dibaca iyo. “metua” dibaca metuo(keluarlah). “Isa” dibaca iso (bisa). Untuk lebih lanjutnya, kita bisa sinaubersama-sama tentang ejaan Bahasa Jawa.

Sekali lagi, untuk dimuat di rubrik ini tidak harus menguasai berbagai hal seperti di atas. Setiap penulis yang pernah dimuat memiliki pengalaman dan trik sendiri-sendiri. Tulisan di atas aku tulis hanya berdasarkan pengalaman yang pernah aku lalui saja. Untuk mengetahui bagaimana proses menulisnya, silahkan membaca “Prosesnulis Ah Tenane Solopos.” Klik Di sini.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Kuasai Ini Agar Dimuat Ah Tenane Solopos"

Back To Top